OPOP Gagasan Gubernur Khofifah: Pesantren Bukan Cuma Tempat Mendalami Agama

BERKEMBANG: Usaha budi daya perikanan yang dikembangkan santri di pesantren dalam binaan OPOP Jatim

TIM OPOP JATIM
Senin, 23 Okt 2023
OPOP Gagasan Gubernur Khofifah: Pesantren Bukan Cuma Tempat Mendalami Agama
Usaha budi daya perikanan yang dikembangkan santri di pesantren dalam binaan OPOP Jatim

Sejak diluncurkan Gubernur Khofifah Indar Parawansa pada 2019, program One Pesantren One Product (OPOP) diikuti seribu pondok pesantren (ponpes) di Jatim. Tiga pilarnya, yakni santripreneur, pesantrenpreneur, dan sosiopreneur, menjadikan santri dan pesantren naik kelas.

PROGRAM OPOP Jatim mengembangkan misi mulia. Di antaranya, membangun jiwa kewirausahaan kepada para santri. Selain itu, mendorong santri menjadi start-up bisnis, menghasilkan dan memperluas produk pesantren yang unggul dan berdaya saing, serta mengembangkan pesantren sebagai institusi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sejauh ini, ada banyak pesantren binaan OPOP yang sukses. Ponpes An Nur 2 Al Murtadlo, misalnya. Pesantren di Bululawang, Malang, itu berhasil mengembangkan produk Kopi Kapiten Nusantara beromzet miliaran rupiah. Awalnya cuma berpangsa pasar lokal, kini produk tersebut berhasil merambah mancanegara.

Sekertaris OPOP Mohammad Ghofirin menyatakan, Ponpes An Nur 2 Al Murtadlo bukan satu-satunya yang sukses mengembangkan kewirausahaan. Masih banyak pesantren lain.

’’Sudah puluhan produk dari pesantren-pesantren yang diekspor. Ini tentu cukup membanggakan,”

Beberapa ponpes yang juga berhasil mengirim produknya ke luar negeri, antara lain, Ponpes Rahmatan Lil Alamin, Nganjuk, dengan produk handicraft (kerajinan tangan). Mereka telah berhasil menyasar pasar ke delapan negara.

Selain itu, ada Ponpes Darut Taqwa, Manyar, Gresik. Songkok dan pakaian muslim dari pesantren itu telah diekspor ke sepuluh negara. Usaha dari ponpes tersebut juga kian berkembang.

Ghofirin menyebutkan, dari seribu lembaga yang bergabung dalam OPOP itu, jenis usahanya beragam. Mulai makanan dan minuman hingga ada juga yang berwirausaha di sektor peternakan, jasa, dan pertanian. Melihat progres itu, pihaknya optimistis jumlah ponpes yang bergabung akan bertambah.

Keyakinan tersebut juga didasari peran pesantren yang semakin kuat. Ponpes bukan sekadar tempat mendalami agama, melainkan juga sarana untuk memberdayakan masyarakat.

’’Dalam program OPOP, bukan hanya santri yang diberdayakan. Kami juga mendorong pesantren untuk melibatkan masyarakat,” ujar Ghofirin yang mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Ekonomi Jawa Timur tersebut.

Harapan itu, lanjut dia, tak akan sulit diwujudkan. Sebab, sudah ada lembaga yang telah mengajak masyarakat terlibat. Saling bersinergi dan berkolaborasi dalam kegiatan usaha yang diinisiatori ponpes.

’’Tentu, kami ingin OPOP terus bertumbuh dan berkembang. Harus selalu belajar untuk juga memahami perkembangan dunia usaha saat ini,” kata Ghofirin.

Inovasi produk dan kemasan tidak cukup untuk dapat mengembangkan pemasaran. Sentuhan teknologi juga tak boleh diabaikan. Karena itu, pengelola OPOP telah bekerja sama dengan berbagai platform penjualan.

Selain itu, Pemprov Jatim bersama perusahaan aplikasi mengembangkan OPOP Academy. ’’Semacam ajang untuk menjaring para pelaku usaha baru dari kalangan santri. Targetnya empat ribu santri,” paparnya.

Dia menambahkan, saat ini sudah banyak ponpes yang meningkatkan kompetensi dan jenis wirausaha dari para santri. Bahkan, satu lembaga itu tidak hanya memiliki satu produk, tetapi juga banyak usaha.

Dalam pengembangan OPOP, pihaknya memang lebih banyak mengadaptasi teori pentahelix. Ada lima unsur yang dilibatkan secara aktif. Yakni, akademisi (kampus), pelaku bisnis (BUMN dan BUMD), komunitas, pemerintah, dan media. ’’Ini menjadi kunci penguatan ekonomi pesantren,” tegasnya.

Meski begitu, Ghofirin tak menampik masih ada kendala dalam pengembangan OPOP. Belum semua pengasuh ponpes sepemahaman. Masih ada yang hanya konsentrasi dalam memberikan pendalaman ilmu agama. Belum memikirkan soal pentingnya pengembangan usaha.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pemprov Jatim Andromeda Qomariah menyatakan, OPOP juga berdampak sangat positif terhadap sektor pendidikan. Berkat program tersebut, ada lembaga yang akhirnya menggratiskan biaya pendidikan bagi santri.

Bahkan, para santri pun memiliki penghasilan sendiri dari aktivitas mereka ikut ’’Nah, santri yang telah memiliki bekal pengalaman dan penghasilan itu nanti bisa membuka usaha sendiri setelah lulus,” ungkapnya.

Andromeda memastikan, pesantren tidak akan sendirian dalam mengelola dan memasarkan produknya. Mereka juga akan mendapat pendampingan seperti pelatihan dan sejenisnya.

mengelola usaha di pesantren.

PRODUK UNGGULAN

news
Rp 40.000,00
news
Rp 20.000,00
news
Rp 60.000,00
news
Rp 30.000,00
news
Rp 30.000,00